Di sini aku duduk sendiri...
Kupandangi bunga-bunga di taman ini yang sedang mekar dengan indahnya, begitu banyak warna bunga
Namun,kenapa hanya warna putih yang melekat di tubuhku...
" Reka!", suara itu pun membuyarkan lamunanku.
Akh, ternyata itu suara tante Vivi. Ku lihat ia membawa dua plastik belanja berukuran besar
lagi.
" Tante Vivi sukanya ngagetin deh. Suka teriak klo manggila nama ku."
" Iya,sayang maafin tante deh. Habis kamu kan kalo lagi duduk di taman pasti nyuekin orang."
Perempuan tadi adalah tante Vivi, dia adalah seorang perawat di bangsal tempatku berada. Dia yang setiap hari menjaga dan merawatku. Tante Vivi pun sudah ku anggap sebagai tante ku sendiri.
" Em..Re,hari ini belum ada yang datang
lagi, ya? Kamu tenang aja yah, biarpun belum ada keluarga kamu yang ke sini, tante selalu datang kan? Jadi, jangan terlalu sering murung ya. Kamu kan cantik kalau senyum."
Tante Vivi pun mengecup kening ku dan mendorong kursi rodaku kembali ke bangsal tempatku di rawat. Sesampainya di bangsal, aku pun tiduran di tempat tidurku. Tante Vivi pun meletakan barang bawaannya yang dititipkan ke pangkuanku ke atas meja di samping tempat tidurku.
" Tante, sebenarnya...Mama sama Papa kemana?", kulihat wajah tante Vivi pun berubah muram dan terdiam sesaat.
" Reka yang sabar yah..."
" Tan, apa mereka gak pernah datang karena karena mereka benci sama Reka? Udah nglupain Reka gitu aja? Masa udah dua bulan lebih yang nemenin Reka dan ngejengukin Reka cuma tante Vivi?"
" Reka cantik, mereka pasti datang kok...pasti...", kulihat tante Vivi meneteskan air mata, namun segera membalikan wajahnya dan menghapus air matanya.
Memang, sudah dua bulan lebih, aku berada di bangsal gangguan jiwa yang menurutku merupakan tempat orang gila biasa dirawat disini. Tapi, tante Vivi mengatakan padaku bahwa aku sebenarnya tidak gila, hanya saja aku kurang bisa mengatur emosi ku dengan baik dan bisa di katakan aku juga mengalami depresi. Bagiku, tidak ada bedanya antara dua hal tersebut dengan yang namanya orang gila. Bukannya awal dari kegilaaan orang berawal dari depresi yang berlarut-larut dan emosi yang tidak terkontrol? Toh, aku dan orang gila lainnya sama-sama tinggal di bangsal ini
Aku masih ingat ketika aku masih di rumah jauh sebelum aku ada di bangsal ini, aku selalu lepas kontrol jika aku sedang marah. Semua barang bisa aku lemparkan ke mana pun. Entah apa sebenarnya yang memicu ku, sehingga emosi ku bisa tidak terkontrol seperti itu. Biasanya aku marah saat kakaku membawa teman-temannya ke rumah dan tertawa dengan kerasnya. Ditelingaku, suara tawa mereka seperti suara orang yang mengejek ku karena aku tidak pernah membawa temanku ke rumah dan tidak bisa tertawa riang seperti mereka. Oh,ya aku adalah tipe orang yang suka menyendiri dan tidak mempunyai sahabat di kompleks rumahku. Mungkin saja karena itulah aku membenci kakaku yang selalu membawa teman kompleks rumahnya ke rumah. Emosiku pun terpancing untuk menolak kehadiran mereka. Dan tentu saja hal itu berhasil mengusir mereka.
Namun, sebenarnya kehidupan pertemanaku di sekolah bisa dikatakan cukup baik. Aku adalah pengurus OSIS dan aku juga menjadi pengurus kelas. Jadi aku lumayan populer di sekolah. Temanku pun banyak. Aku sering pergi bersama teman-teman sekolahku. Makanya, aku sangat tidak nyaman bila terus di rumah dan lebih suka pergi. Di sekolah aku adalah orang yang ceria, sedangkan di rumah aku akan segera berubah menjadi penyendiri. Yah, seperti punya dua sisi yang saling bertolak belakang.
Seingatku, puncak depresiku terjadi saat aku sudah tidak mampu membendung emosi yang sudah cukup banyak menumpuk di otak ku. Keinginan ku sering kali diabaikan kedua orang tuaku, dan aku selalu cemburu jika kakaku selalu di anak emaskan dan selalu dipenuhi permintaanya. Aku pun menjadi lebih tidak terkontrol dari sebelumnya. Semua barang yang ada di rumahku aku lempar dan aku pecahkan. Aku berteriak-teriak sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas. Mama dan Papa ku pun menelpon seseorang, dan setelah ambulans datang aku baru tersadar bahwa mereka menelpon pihak rumah sakit.
Masih tersimpan dengan jelas di ingatan ku, Mama dan Papa meminta dokter agar aku di rawat inap saja. Lalu, tiba-tiba saja jarum suntik seorang perawat menembus kulitku dan aku mualai merasa hilang dan lelah.
Ketika aku tersadar, aku telah memakai baju warna putih yang saat ini selalu aku pakai. Perawat yang dulu menyuntik ku lah yang selama ini setia bersama ku. Ya, dia adalah tante Vivi. Tante Vivi menceritakan sendiri pada ku bahwa ia adalah perawat yang telah di sewa keluarga ku untuk merawat segala sesuatu tentang kebutuhan ku di sini. Makanya aku lebih suka memanggilnya tante daripada suster.
" Reka? Kok melamun lagi sih? Oh, ya ini tante belikan makanan yang kemarin kamu pingin makan. Taraaaa! Spagheti! Yum..yum! Enak banget loh."
Tante Vivi pun mengambilkan piring dan akan menyuapiku.
" Ayo, buka mulutnya... Aaaa!"
Aku menolak makanan itu dan bertanya pada tante Vivi.
" Tan...Apa Reka bakalan di sini terus selamanya? Reka kangen Mama, Papa, kak Selly...Reka kepengin pulang...Reka muak di sini..."
Tante Vivi pun meletakan piring
Spagheti di atas meja, dan memegang tangan ku.
" Reka...tante Vivi kan bilang kalo tante akan berusaha nyembuhin penyakit kamu. Nanti baru tante ngehubungin keluarga Reka buat jemput Reka. makanya Reka harus sembuh dulu. Masalah mereka gak datang, kan memang di bangsal ini susah kalo mau jenguk pasien. Soalnya pasien di sini lebih membutuhkan tempat yang tenang dibanding bangsal yang lain dan akan lebih baik jika tanpa adanya banyak orang luar yang berkunjung ke sini. Tentu saja kecuali dokter, perawat dan petugas di sini saja yang boleh keluar masuk setiap hari. Reka juga tau sendiri kan, pasien yang lain juga jarang di kunjungi keluarganya. Itu karena, keluarga mereka sangat tahu betul peraturan di sini. Kamu tenang saja ya."
Tante Vivi pun membelai lembut rambut ku.
" Tapi...di sini Reka ngerasa sunyi banget...Gak ada hiburan."
" Reka mau apa?"
" Em...kalo Reka minta Televisi boleh kan, tan. Itung-itung sebagai ganti keluarga Reka terus biar gak sepi banget di sini."
" Oke, kalo emang Reka kepengin nonton TV, nanti tante bawain TV deh buat Reka. Asal sekarang Reka makan dulu, yah. Oh gimana kalo makannya sambil jalan-jalan di taman? Tadi kan waktu tante ke sini tante ngeganggu kamu yang lagi asyik di taman."
" Iya deh, tan. Reka mau kok."
Aku pun di kembali duduk di kursi roda dan di dorong menuju taman. Meskipun aku berusaha tersenyum pada tante Vivi, aku masih sangat rindu keluarga dan rumah ku dan sangat sedih jika memikirkan mereka semua.
Saat aku sampai di taman, aku kembali bertanya pada tante Vivi.
" Tante, kapan aku pulang? Aku benar-benar rindu keluarga ku..."
Ku lihat tante Vivi meneteskan air mata dan cepat-cepat menghapusnya."
" Reka harus sembuh dulu ya, sekarang Reka juga harus makan dulu biar cepat sembuh. Setelah itu makan obat. Makanya Reka harus patuh sama tante dan dokter di sini. Oke?"
" Kalo aku nglakuin itu semua aku bakalan cepet keluar dari sini kan?"
" Iya sayang. Sekarang makan yah. Jangan khawatir kamu pasti akan sembuh dan kamu nggak kan ngerasa sepi karena tante akan selalu ada di samping Reka setiap saat. Tante janji."
Sayang, sampai saat ini janji yang dibuat tante Vivi tidak pernah berlaku pada malam hari. Tiap malam, sunyi selalu menghampiriku. Hanya angin malam dan makhluk malam yang selalu setia menemaniku di saat malam tiba. Aku sangat ingin keluar dari tempat ini. Aku ingin menemui keluarga ku. Namun, mungkin hal itu akan sulit tercapai.
Suatu ketika,sekitar satu bual yang lalu, aku mendengar percakapan dokter dan tante Vivi. Mungkin karena mengira aku sedang tidur, mereka pun bebas berbicara.
" Apa? Keluarganya pindah? Pindah ke mana?"
Aku mendengar suara tante Vivi bergetar, antara menahan rasa marah dan sedih.
" Iya, saya kemarin dihubungi pihak kelurganya. Sepertinya mereka pindah ke luar negeri..."
" Apa? Jadi...jadi...mereka meninggalkan anak mereka sendirian di sini? Tidak ada kah kerabat terdekatnya yang ada di sini?"
" Sayang sekali tidak ada, suster. Tetapi mereka memberitahukan bahwa mereka akan mentransfer biaya perawatan Reka dan gaji suster melalui rekening suster."
" Ya, Tuhan...Reka yang malang...kenapa mereka tega meninggalkanmu sendirian di sini..."
Ku dengar tante Vivi mulai terisak lemah.
Saat itulah sebenarnya aku mulai merasakan bahwa aku akan berada di tempat ini dalam jangka waktu yang lama. Aku berkeyakinan bahwa aku akan menjadi sahabat yang sangat erat dengan kesunyian ku ini di sini....